MENULIS

coretan indah sebagai ungkapan perasaan dan pikiran

BERBAGI

berbagi ilmu dan berbagi cerita

Bersemangat

bersemangat dan selalu memotivasi diri

Belajar

belajar sepanjang hayat

Bekerja

bekerja dengan ikhlas, komitmen dan tanggung jawab

Jumat, 06 Januari 2012

Kisah dibalik Mobil Kiat SMK

Sosok yang berperan dalam "kelahiran" mobil Kiat Esemka adalah Sukiyat, pemilik dan pendiri Kiat Motor. Bekerja sama dengan Direktorat Pendidikan Kejuruan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pria kelahiran Trucuk, Klaten. 22 April 1957 ini merintis perakitan mobil bikinan anak bangsa.

Mobil Esemka naik daun setelah Wali Kota Surakarta, Joko Widodo menggunakannya sebagai mobil dinas. Mobil yang dirakit para pelajar SMK Warga Surakarta dan Kiat Motor tersebut menggunakan komponen 80 persen lokal dan 20 persen impor.

Sukiyat mengawali usaha bengkel motor pada 1978. Kini usahanya berkembang menjadi tempat pengecatan mobil dengan sistem oven dan perbaikan bodi mobil. Persinggungannya dengan siswa sekolah menengah kejuruan dimulai ketika pada 2007, ayah dua anak ini memodifikasi sebuah Toyota Crown menjadi mirip Toyota Land Cruiser.

Tertarik dengan kreativitas Sukiyat, Direktur Pendidikan Kejuruan Joko Sutrisno lantas menyambangi rumahnya di Jalan Yogya-Solo, Ngaran, Klaten. “Dia ingin mengajak kerja sama merakit mobil yang dikerjakan oleh siswa SMK,” katanya ketika ditemui di Solo, Selasa, 3 Januari 2012.

Singkat cerita, sejak 2008 hingga kini bengkel seluas 6.500 meter persegi ini tidak sepi dari aktivitas perakitan mobil oleh siswa SMK. Setidaknya ada 20 SMK yang menitipkan siswanya untuk magang di tempatnya. “Ada yang dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah,” lanjut pria yang tidak lulus STM di Klaten ini.

Kemudian, dia turut andil tatkala mendampingi siswa SMK 2 dan SMK Warga Surakarta yang merakit mobil Kiat Esemka. Dua unit mobil hasil perakitan kini telah digunakan sebagai mobil dinas Wali Kota Surakarta Joko Widodo dan Wakil Wali Kota Surakarta Hadi Rudyatmo.

Menurut Sukiyat, dana dua unit mobil tersebut dari masing-masing sekolah, yang mendapat dana dari Kemendikbud. Satu unit biayanya sekitar Rp 350 juta. Komponen mesin didatangkan dari Jakarta, yang juga buatan siswa SMK 1 Jakarta.

Kemudian blok mesin dibikin di Klaten, dan mesin dirakit di SMA Warga. Mesin tersebut berjenis TwinCam dengan merek Esemka dengan kapasitas 1.500 cc. “Sudah injeksi. Sehingga irit bahan bakar karena pembakarannya sempurna,” katanya.

Dimulai pada September 2011, mobil Kiat Esemka yang berjenis Sport Utility Vehicle (SUV) selesai 2,5 bulan kemudian. Dia mengaku bangga dengan hasil karya siswa SMK. Hal itu membuktikan bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain.

Dengan meluncurkan Kiat Esemka, “Mimpi saya bisa menjadi seperti Henry Ford, yang bisa membuat mobil,” ujar Sukiyat. Nama Kiat Esemka dipilih karena dia turut andil dalam pembuatan bodi, yakni sekitar 80 persen dari total perakitan mobil.

Hingga kini, bengkelnya tidak berhenti bekerja. Sukiyat ingin terus mendidik siswa SMK agar mahir merakit dan nantinya bisa mandiri. Dia berharap lulusan SMK yang dia didik bisa menjadi wirausaha yang berbasis pada industri otomotif.

source: tempo.co

salam gaptek...

Guru Gaptek (Kreatif) Masa Kini

Ada sebagian guru percaya bahwa menjadi sosok yang kreatif itu sulit. Apalagi kalau ditambahi alasan gaji pas-pasan, mengajar di daerah pelosok, media pembelajaran sangat terbatas, maka semakin yakinlah bahwa kreativitas itu memang sulit dilakukan. Mungkin, hanya guru-guru istimewa saja yang bisa kreatif. Lantas, apa benar jadi guru kreatif itu sulit?

Sebut saja namanya Siti Waliyati, anak yang terlahir dan mengabdikan dirinya di pelosok desa. Sekarang dia mengajar di SDN 8 Langkahan (Aceh Utara). Saya kaget bukan main, SDN 8 Langkahan terletak jauh sekali dari pusat kota. Perlu waktu sekitar 1,5 – 2 jam dari kota Lhokseumawe agar bisa sampai di SDN 8 Langkahan. Jalannya cukup berliku dan berbatu, berdebu di musim kemarau, dan berlumpur di kala hujan. Mobil tumpangan saya pernah terjebak lumpur, rombongan babi hutan sempat menghadang, bahkan saya hampir nyasar ke hutan karena salah jalan. Namun, bagi Siti, hal semacam ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Gaji Siti sangat kecil kalau tidak mau kita sebut alakadarnya. Dia tak pernah risau dengan statusnya sebagai guru honorer. Dia tak pernah berpikir bisa jadi guru hebat nan kreatif karena segala akses pengembangan diri sungguh sangat terbatas. Keikutsertaan menghadiri training guru bisa dihitung dengan jari, buku referensi hampir jarang ditemukan. Supervisi dari kepala sekolah tidak pernah rutin dijalani. Tapi, di sinilah kehebatan Siti sedang diuji. Mungkinkah dia bisa jadi guru hebat dengan segala keterbatasan yang ada?

Jawabannya ternyata ditemukan juga. Lomba Inovasi Media Pembelajaran Se-Kecamatan Langkahan menjadi saksi bisu atas perjuangan Siti menjadi guru hebat nan kreatif. Lomba itu memberi tantangan khusus kepada peserta untuk membuat inovasi media pembelajaran yang kreatif, orisinil, dan bisa digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Ada 17 peserta yang lolos ke babak final. Saya ingat betul, Siti menjadi peserta yang mendapat giliran tampil kedua untuk menyajikan hasil karyanya. Bungkus rokok, potongan kayu-kayu kecil, potongan karet sendal jepit berbentuk lingkaran, sedotan, dan sebuah balon, berhasil disulap menjadi mobil-mobilan. Saya dibuat penasaran jadinya. Apa yang hendak ditunjukkan Siti kepada dewan juri?

Dengan gaya khasnya, dia menjelaskan apa dan mengapa tujuan media itu dibuat. Semua dewan juri menganggukkan kepala tanda memahami apa yang disampaikan Siti. “Dengan alat ini, saya ingin membantu siswa memahami konsep gaya,” urai Siti meyakinkan. Situasi menjadi sedikit tegang ketika Siti harus mendemonstrasikan alat itu. Sesaat Siti menghela nafas, lalu meniup balon dengan sedotan, dan diletakkannya balon itu di bagian rangka mobil, lalu apa yang terjadi?

Sontak suara tepuk tangan riuh bergema di semua sudut ruangan, mobil itu berhasil meluncur dengan bantuan udara yang keluar dari balon. Fantastis. Beberapa dewan juri sempat pula meminta Siti melakukan hal itu berulang-ulang. Wualah, orang tua aja senang bukan main belajar dengan alat ini, apalagi anak-anak. Pikiran itu terlintas di benak saya.

Siti benar-benar berhasil menyihir dewan juri dengan kreativitasnya yang tiada tara. Apalagi setelah melihat penampilan peserta lainnya, mereka hampir tidak mampu menunjukkan aspek orisinalitas produk inovasi dan kemudahan bahan yang akan dibuat media pembelajaran tersebut. Yang ada, mereka hanya membawa contoh media pembelajaran yang sudah jadi dan bisa didapatkan di pasaran, seperti  globe, gambar-gambar hewan dan tumbuhan, dan media sejenis lainnya.

Untuk dua hal ini, orisinalitas gagasan dan kreativitas meracik bahan baku pembuatan media, Siti berhasil mengungguli peserta lainnya yang relatif sudah memiliki pengalaman mengajar lebih lama dari Siti. Belum lagi kalau mau dibandingkan dari aspek besar gaji yang diterima, frekuensi keikutsertaan mengikuti training guru, dan keterasingan dari akses pengembangan diri lainnya, Siti kalah telak dari kontestan lainnya yang sebagian besar sudah menjadi guru PNS.

Ah, tapi apa hubungannya antara kreativitas dan besarnya gaji? Apa memang betul senioritas dalam hal pengalaman mengajar berbanding lurus dengan kreativitas? Status guru PNS atau honorer, berpengaruhkah pada sikap kreatif seorang guru? Ah, Bu Siti mungkin tahu jawabannya.

“Ini baru awal, saya akan berjuang lebih keras lagi untuk menjadi guru yang baik,” Siti sempat berujar di sela-sela acara pengumuman pemenang lomba. Dan tekad itu dibuktikannya pula. Secara otodidak, Siti terus mempelajari banyak hal untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Sampai akhirnya, dia terpilih mewakili SDN 8 Langkahan untuk menjadi pembicara di Event Hari Guru Nasional 2010 silam di Jakarta.

Apa yang dia bicarakan tidak jauh-jauh dari apa yang sudah dilakoninya selama ini. PAIKEMI (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan Islami), istilah populer yang kerap masih sulit dilakukan sebagian besar guru yang belum sadar akan manfaat dari strategi mengajar ini. Guru yang usianya terhitung masih sangat muda ini pun sangat konsisten mempraktikkan PAIKEMI di kelasnya.

Kreatif, semua orang bisa miliki sifat ini. Kreativitas, menuntut proses belajar tiada henti dan tidak pernah merasa berpuas diri dalam hal bekerja dan berkarya. Siti Waliyati, potret menarik perjuangan guru dalam berkreativitas. Tak ada yang sulit jika kita terus mau belajar dan memperbaiki diri. Berangus rasa berpuas diri karena ini ancaman nyata menjadi guru kreatif.

Gaji yang minim, sulitnya akses pengembangan diri, jarangnya kesempatan mengikuti training guru, statusnya yang masih guru honorer, bukan alasan bagi Siti untuk tidak bisa jadi guru kreatif. Lantas, apa yang bisa membuat Siti melawan segala keterbatasan yang ada?

“Saya akan terus berjuang untuk mendidik anak-anak Langkahan, kasihan kalau mereka tidak ada guru. Mereka tak akan pernah punya masa depan,” Siti menegaskan komitmennya berikhtiar tuk jadi guru yang baik. Ternyata sederhana saja, komitmen diri, itu kunci menjadi guru kreatif. Siti Waliyati, salah satu contoh terbaik sosok guru kreatif.

source: republika.co.id


salam gaptek...

Kamis, 05 Januari 2012

Sukses Berkat Dunia Maya

Sebuah kisah dari seorang pengawas yang diambil dari republika.co.id
Berikut ini kisah selengkapnya -->

Profesi saya adalah pengawas sekolah SMA/SMK di Kota Mungil di tengah-tengah Pulau Sumbawa, tepatnya di Kabupaten Dompu, NTB, yang penuh dengan segala keterbatasan. Internet baru bisa diakses dengan baik mulai tahun 2009, itu pun sangat terbatas. Bisa dibayangkan  apa yang terjadi sebelum tahun 2009 itu. Guru-guru, kepsek, dan pengawas sekolah yang memahami IT sangat langka saat itu. Praktis pekembangan dunia pendidikan di luar hanya bisa diikuti melalui koran yang yang boleh dibilang sudah basi.

Sebagai seorang pengawas, aku dituntut untuk membina, memantau, dan menilai kinerja guru saat itu. Keterbatasan selalu menghantu pikiranku. Apa yang bisa aku lalukan? Sementara guru-guru dan kepsek binaanku saat itu membutuhkan teman kolaborasi.

Aku melihat setelah dua tahun KTSP diberlakukan, pendidikan di daerah ini masih tidur pulas, belum juga bangun dari tidur panjangnya. Hasil UN selalu berada pada posisi juru kunci dari 9 kabupaten/kota se-NTB. Politik pun merasuk ke dunia pendidikan. Bongkar pasang guru dan kepala sekolah bukan rahasia lagi. Akibatnya program pendidikan tidak bisa dibedakan lagi mana ujung dan pangkalnya. Namun, aku berpikir positif, mutasi adalah sebuah kebijakan untuk mencapai kualitas.

Singkat cerita, aku harus berbuat sesuatu. Menguasai IT dan internet dan berselancar di dunia maya kata orang akan mendapatkan informasi yang tidak terbatas. Satu bulan aku kursus manual IT dan internet,  Alhamdulillah sukses.

Tepatnya 8 januari 2010, pas hari ulang tahunku, aku pertama kali mengenal dunia maya. Aku mulai buka google dan mengetik huruf ‘Akh’, maksudku aku mau nulis ‘akhirnya aku berhasil’. Tapi, keburu yang nongol ‘AkmadSudrajat’, ya aku mulai masuk ke situ.

Ternyata, isinya sebuah blog pendidikan. Aku belum kenal apa itu blog. Wah, aku sempat tercengang, berdecak kagum luar biasa. “Kenapa tidak sejak dulu,” teriak ku keras. Tanpa sadar sempat membuat orang  yang lagi belajar di warnet tertawa.

Yang pertama aku baca adalah sebuah tulisan motivasi sukses, aku sudah lupa siapa penulisnya. Ringkasan tulisan itu seperti ini:

Sukses merupakan suatu perjalanan, bukan tujuan. Kesuksesan adalah suatu perjalanan yang menciptakan nilai tambah untuk diri sendiri dan masyarakat sekitar dalam rangka menuju kehidupan bahagia di alam setelah dunia. Kapal yang berlabuh di pelabuhan memang aman, namun bukan itu tujuan dibuatnya kapal. Sukses sejati berpijak pada roadmap kehidupan sejati. Untuk apa aku hidup?

Mengapa banyak orang gagal? Tidak ada tujuan hidup, tidak bertanggung jawab atas tindakannya, malas, manajemen waktu lemah, kurang pengembangan diri, tidak ada komitmen untuk sukses, kurangnya hubungan antarmanusia, dan semacamnya.

Dengan indikator sebagai berikut: masa lalu tidak = masa depan, tidak ada kata kegagalan hanya ada keberhasilan, bertanggung jawab atas kehidupan, semua yang terjadi adalah yang terbaik, kalau saya mau saya pasti bisa, tidak ada kesuksesan tanpa komitmen, orang yang sukses tidak pernah putus asa, yakinlah bahwa hidup di dunia ini tak ada yang abadi, kita dapat menoleh terhadap mereka yang ‘berdaya juang’ mencapai sukses sejati:

1.Sylvester Stallone, untuk memasarkan Rocky dia ditolak 1855 kali

2.Thomas Alfa Edison dalam proses menciptakan bola lampu gagal 9999 kali. “Aku tidak gagal katanya, malah aku berhasil membuktikan bahwa 9.999 jenis bahan mentah itu tidak bisa dipakai. Dia berkata “Aku akan meneruskan percobaan ini sampai menemukan bahan yang cocok.”

3.Walt Disney  mengajukan proposal “Disneyland” kepada  bank-bank di Amerika Serikat ,ia ditolak sebanyak 302 kali.

4.Sebelum menemukan elemen radium, penelitian Marie Curie gagal sebanyak 48 kali.  “Sesungguhnya perlu 100 tahun lagi untuk menemukan elemen ini,” katanya semangat dan optimis. Tidak ada kata pesimis sedikitpun dalam berjuang. “Dan selama saya masih hidup saya tidak akan menghentikan penyelidikan ini”. Luar Biasa !!!!!!!!!!.

Meniti sukses itu dambaan semua manusia yang berpikir. Karena itu: Pahami Hakikat Diri, Buang Believe yang Salah & Kontraproduktif, Tingkatkan Valensi Diri, Tetapkan Arah & Tujuan, Tancapkan Doa, Optimalkan Ikhtiar, Sertakan Tawakkal, Masuklah dalam lingkungan yang kondusif, Bila belum dapati sukses, ingat HUHUtTE.

Tuliskan Kontrak kesepakatan terhadap diri kita sendiri
1.Kekuatan saya adalah..................................
2.Kelemahan yang harus segera saya ubah adalah ...........................
3.Karier atau bisnis yang paling menarik bagi saya adalah ...................................
4.Ilmu pengetahuan dan keahlian yang harus saya kuasai adalah................................
5.Seminar dan buku yang harus saya ikuti dan baca dalam enam bulan ini adalah ..............................
6.Orang-orang sukses yang harus saya kenali adalah...........................................
7.Visi dan Misi saya adalah ............................
8.Perubahan yang harus dilakukan sekarang adalah...........................................
9.Prinsip kesuksesan utama saya adalah ....................................................................
10.Komitmen sukses saya adalah....................................................


Berkat itu semua aku semakin termotivasi untuk mengembangkan diri agar tidak digelari “Pengawas adalah tempat parkir guru yang bermasalah dan tempat perpanjang usia pensiun”. Karena aku pikir tupoksi pengawas tidak demikian. Malahan Pekerjaan sebagai pengawas menurut aku paling berat dibandingkan guru dan kepala sekolah kalau benar-benar melaksanakan tupoksi pengawas.

Setiap hari pengawas harus turun ke sekolah mendampingi guru keluar masuk kelas. Hasilnya didiskusikan lagi melalui klinis. Itu hanya sebagaian kecil tugas pengawas di bidang akademik. Belum lagi berbicara pengawasan manajerial, berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain, dari kecamatan ke kecamatan lain. Selalu menjadi bahan diskusi teman teman bahwa pengawas  termarjinalkan oleh regulasi pendidikan saat itu (sekarang tidak).

Internet sudah menjadi kebutuhan pokok saya dalam mencari informasi pendidikan. Download pun berjalan terus sampai aku beli hard disk eksternal yang kapasitasnya 700 GB untuk menampung semua info pendidikan, utamanya yang berkaitan dengan kebutuhan pengawas, guru, dan kepala sekolah.

Blog Akhmat Sudrajat saat itu menjadi favorit saya dan mulai berinteraksi dengan teman guru dan pengawas seluruh Indonesia, berdiskusi masalah pendidikan di forum pengawas. Blog Akhmad Sudrajat ibarat buka perawan di dunia maya. Ternyata beliauau adalah seprofesi dengan saya, yaitu pengawas BK di kabupaten/Kota Kuningan.

Alhamdulillah, berkat dunia maya, saya --tanpa mendapatkan diklat khusus KTSP-- saat itu sudah menfasilitasi kolaborasi dengan sekolah untuk MGMP, BIMTEK, masalah pembelajaran dan penilaian, khususnya menususn silabus dan RPP serta Penilaian.

Salah satu hasil binaan telah mengantarkan SMPN 1 Kempo satu-satunya sekolah di Kab.Dompu menjadi sekolah RSBI. Mulai 2009, aku sudah mulai kebanjiran panggilan diklat Dir PSMA, P4TK matematika, BAN, AIBEP, dll, sebagai momen yang tepat untuk mengembangkan diri.

Terinspirasi dengan blog Pak Akhmad Sudrajat, aku mulai membangun rumah maya untuk bisa menampung hasil diklat saya di Dir PSMA, Dir PSMP, BAN, AIBEP, dan produk hasil kegiatan tersebut serta beberapa tulisan/artikel saya. Aku pikir akan lebih bermanfaat bagi guru kalau saya bangun perpustakaan di dunia maya yang diberi nama http://www.suaidinmath.wordpess.com, yang sudah diakses oleh ratuasn ribun guru di seluruh Indonesia.

Blog saya ini sudah menjadi blog sahabat http://www.akhmadsudrajat.wordpress.com. Rupanya, tanpa aku sadari, blog yang aku buat ini ternyata membawa rezeki yang tidak disangka-sangka. Betapa tidak, di antara ribuan guru dan pengawas sahabatku, bahkan mahasiswa pengunjung blogku, pasti ada satu atau dua orang tiap hari atau minggu yang menelepon minta tolong bermacam macam. Ada yang minta bantuan gimana sebaiknya olah data PTK, misalnya, dan lain lain. Ada aja yang minta no rekening setelah selesai tugasnya.

Kemudian tahun 2010 aku juga mulai melirik Facebook. Aku melihat hamper 90% FB digunakan pada hal-hal yang kurang bermanfaat, apalagi aku lihat siswa dan mahasiswa jarang yang memanfaatkannya untuk diskusi pendidikan, diskusi tugas, dan lainnya.

Nah, aku lihat Facebook bagus untuk menarik perhatian teman guru yang hamper 90an % punya FB. Dengan FB yang aku beri nama Suaidin Dompu, aku membuat grup forum guru Indonesia. Hampir semua catatan diisi dengan masalah dunia pendidikan, demikian pula statusnya penuh dengan ajakan kepada guru untuk selalu mengembangkan diri dalam meraih sukses dalam proses pmebelajaran di sekolah. Alhamdulillah, hasilnya pas bulan Januri 2011, saya mendapat piagam penghargaan FACEBOOK INTERNATIONAL  AWARD 2010. 

Beberapa prestasi yang aku raih berkat pengembangan diri memalui dunia maya dan dikembangkan melalui diklat dan sebagainya:
1. Juara Lomba Pengawas Prestasi tk kabupaten, 2008, 2009
2. Juara II pengawas prestasi tk propinsi 2008
3.  Juara I propinsi th 2009 (tp dianulir karena ada protes peserta lain karena sudah pernah juara 2 thn 2008). Padahal aturan itu hanya yang juara I saja yang tidak boleh ikut. Tapi Pak ketua PGRI Propinsi member jempol saya dengan sepatah kata “Anda Sang Juara Sejati.”
4. DC ( District Coordinator AIBEP Indonesia Australia) sekaligus sebagai Trainner.
5. Fasilitatir Pusat BIMTEK KTSP Dir-PSMA
6. Sekertaris Unit Pelaksana Akreditasi Sekolah sekeligus sebagai Assesor SMA
7. TIM MBS Kab.Dompu
8. TIM Pengembang Kurikulum Kab.Dompu
9. Pernah menjadi salah seorang pemakalah Seminar Nasional Implementasi dana Bos dalam meningkatkan Mutu Pemdidikan
10. Aktif ikut berdiskusi bersama teman guru di web KTI guru Online.

Suaidin Usman
Pengawas SMA/SMK Dinas Dikpora Kab.Dompu, NTB
Alamat: Lingk.Polo RT 04/02 Kelurahan Kandai 2, Woja, Dompu, NTB









salam gaptek...

Journal of Teacher Education

The Journal of Teacher Education (JTE) is leading teacher education through the 21st century with timely topics such as field experiences and teacher education; cognitive science and critical thinking; preparing teachers for urban schools; teachers' beliefs; accreditation and certification; selection, retention, and recruitment of minority teachers and teacher leadership; perspectives on leadership; professional ethics in teacher education; and restructuring teacher education.

Impact Factor: 1.891
Ranked: 18 out of 184 in Education & Educational Research
Source: 2010 Journal Citation Reports® (Thomson Reuters, 2011)

CSS gradient generator

Just released the Ultimate CSS Gradient Generator – it’s a powerful online Photoshop-like CSS gradient editor that will output cross-browser HTML5 / CSS3 gradients and will complement the ColorZilla set of color tools.

As you might know, HTML5 introduced many exciting features for Web developers. One of the features is the ability to specify gradients using pure CSS3, without having to create any images and use them as repeating backgrounds for gradient effects.
A few features in this first version of Ultimate CSS Gradient Generator:
  • A convenient ‘presets’ panel for pre-selecting a wide variety of gradients.
  • A gradient editor control that allows adding and removing stops, changing their color and position etc.
  • ‘Preview’ panel allows previewing the current gradient as a vertical or horizontal one, and also allows quickly previewing how the Internet Explorer fallback gradient will look in IE.
  • ‘CSS’ panel always has the CSS for the current gradient for easy copying and pasting into your stylesheet.
Check it out and let me know what you think
Important: You’ll need a recent version of Firefox, Chrome or Safari to use this Gradient Generator. The resulting CSS gradients are cross-browser – they will work in these browsers and will also fall back to a simpler gradient in Internet Explorer.


The CSS Gradient Generator will also be included in the latest version of ColorZilla.

Credits: The ‘Ultimate Web 2.0 Gradients’ preset gradients were derived from the great work by deziner folio and SGlider12 (their work was released under Creative Commons Attribution-ShareAlike license). The Color Picker is a minor adaptation of John Dyer’s awesome Color Picker.


Source: iosart blog 


salam gaptek...

Selasa, 03 Januari 2012

Blogger Link









Terima atas kunjungan teman-teman semua
Semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat

Bila berkenan, marilah kita saling bertukar link bersama-sama.
Silahkan copy paste kode dibawah ini.

<a href="http://guru-gaptek.blogspot.com/" target="_blank">guru gaptek</a>

atau kasih nama dan hiperlink dibawah ini:

Nama: guru gaptek
Link: http://guru-gaptek.blogspot.com/

Thanks b4...
Setelah terpasang silahkan konfirmasi di Guest Book atau komentar di bawah artikel ini. Insya Allah secepatnya akan kami pasang link teman-teman semua di bawah ini.

Daftar link teman:



BackLink

Free Automatic Backlink
Best Backlinks
daily Bookmarks
Free 1000 Backlinks
Auto Dofollow Backlinks
Backlinks Builder
Dofollow Backlinks
Free Hundred Backlinks

Backlinks USA Free Backlinks Service at BacklinksUSA.com!

SEO-Extreme Professional search tools for free
Free Auto Backlink Exchange Service
Free Automatic Google Backlinks - SEO

SODIK-SOAK PENDIDIKAN


Selama ini telah banyak beredar kaos distro dengan berbagai tema. Kaos-kaos yang beredar tersebut memiliki desain dan ide yang berbeda-beda sesuai dengan tema yang diambil. Ada distro kaos yang bertemakan budaya daerah sebagai buah tangan asli daerah. Selain itu ada juga distro kaos yang menjual kata-kata lucu dan inspiratif. Dan masih banyak lagi tema yang diangkat oleh para pengembang dunia distro kaos.


Dari sekian banyak tema yang diambil oleh pengembang, belum ditemukan distro kaos yang secara khusus mengangkat tema pendidikan. Sebaliknya dunia pendidikan memiliki banyak sekali inspirasi yang dapat dituangkan melalui desain kaos distro yang unik dan mendidik. Oleh sebab itu perlu adanya inovasi baru yang menggabungkan dunia pendidikan dengan dunia usaha pembuatan kaos distro, yang notabene digemari oleh para kawula muda.


Usaha kaos distro bertemakan pendidikan ini akan diberi nama “Sodik Juragan Kata-Kata”. “Sodik” bukan nama orang tapi merupakan kependekan dari “Soak Pendidikan”. “Soak” adalah kebalikan dari “Kaos”, kata ini merupakan ciri khas dari Kota Malang Sebagai Kota Pendidikan Internasional. Sedangkan “Juragan Kata-Kata”, dapat dianalogikan sebagi pusatnya kata-kata. Dalam hal ini adalah kata-kata dengan tema pendidikan yang inspiratif dan mudah dipahami seta diingat oleh masyarakat.


Produk dari “Sodik Juragan Kata-Kata” ini akan mengenalkan sebuah inovasi baru di bidang distro kaos dengan tema pendidikan. Dengan adanya kaos ini diharapkan akan membawa penyegaran bagi masyarakat, agar lebih peduli dengan dunia pendidikan. Kata-kata yang disampaikan adalah kata-kata untuk membangkitkan motivasi, penuh inspirasi, kritik dan saran terhadap dunia pendidikan di Indonesia.

Cintailah produk dalam negeri dan kunjungi outlet resmi sodik juragan kata-kata.

salam gaptek...